Beranda Hukum & Kriminal PT GGP Diduga Caplok Lahan Milik Warga 35 Ha

PT GGP Diduga Caplok Lahan Milik Warga 35 Ha

365
0
BERBAGI

Cahayalampung.com–PT Great Giant Pineapple (GGP) Gunung Batin, Lampung Tengah (Lamteng) diduga mencaplok atau menguasai lahan milik warga Gunung Batin, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lamteng, seluas 35 hektar.

Gubai (45) pemilik lahan 35 ha mengaku lahannya dicaplok oleh PT Umas Jaya atau PT Great Giant Pineapple yang terletak di Umbul Kerakking, Desa Terbanggi Ilir, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lateng.

Menurut Gubai, lahan itu merupakan warisan dari orang tuanya atas nama A.Basid (almarhum) dan didapatkan dari beli dengan kepala desa Terbanggi Ilir, Misbach Buchori pada tahun 1992. Lahan tersebut ditanami pohon jati dan karet.

Lokasinya berada di umbul Kerakking Desa Terbanggi Ilir, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, dengan batas-batas sebelah utara dan timur berbatas dengan PT. Gula Putih Mataram, sebelah selatan dan barat berbatas dengan PT.Multi Agro (PT Umas Jaya).

“Bapak (A Basid) dulu beli dari kepala Desa, ada SKT nya tahun 1992. Dalam SKT itu luas tanahnya kurang lebih 35 hektar,” kata Gubai Kepada wartawan, Sabtu (19/10/2019).

Menurut Gubai, semasa A.Basid masih hidup, tanah itu tidak pernah digarap oleh pihak perusahaan perkebunan nanas, pisang dan ubi kayu itu.

“Padahal, sebelumnya lahan itu oleh keluarga kami ditanami pohon karet, jati, dan tanaman pepohonan lainya. Setelah Bapak meninggal, tanah kami digarap oleh perusahaan sekira tahun 2012,” katanya.

Bahkan, Gubai mengaku pihak perusahaan melarangnya untuk masuk ke lahan tersebut. “Dulu pernah dapat izin untuk masuk dan menggarap lahan saya, tapi sekarang saya dilarang,” paparnya.

Baru-baru ini, ia memberanikan diri menggarap lahan dan menanam ubi kayu. “Tapi tanaman singkong saya di cabut oleh pihak perusahaan,” jelasnya.

Terkait permasalahan ini, pihaknya sudah melakukan upaya-upaya hukum untuk mempertahankan hak atas kepemilikan tanah itu.

“Saya sudah mengadukan permasalahan ini ke BPN pusat, Sekertariat komisi II DPR RI, dan laporan ke Polda Lampung pada tahun 2012,” bebernya.

Namun, lanjutnya, hingga saat ini permasalahan itu masih menggantung dan tak kunjung selesai. Pihak keluarga pemilik lahan berharap pihak terkait dan pihak perusahaan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Saya rakyat kecil, sampai bingung untuk menuntut keadilan. Harus kemana lagi saya meminta keadilan untuk memperjuangkan hak atas kepemilikan tanah saya,” keluhnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Umas Jaya belum dapat dikonfirmasi terkait permasalahan ini.

“Coba langsung saja tanyakan ke kantor central pak, saya tidak tahu menahu terkait hal itu. Saya juga tidak tahu siapa yang mencabut tanaman singkong pak Gubai,” kata salah satu Scurity di pos jaga pintu masuk. (SBP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here