Beranda Berkelakar Salah Siapa

Salah Siapa

238
0
BERBAGI

Cahayalampung.com, Menggala–Berat rasanya, saat anak-anak ingin mengajak pesiar ke kabupaten tentangga—Tulangbawang Barat. Kenapa sih harus ke sana. Jujur rasanya tak sanggup membayangkan, apa nanti yang akan saya lihat.

Untuk menyenangkan hati anak-anak, baiklah. Saya bergegas menyiapkan kendaraan dan keperluan lainya: masker dan hand sanitizer. Maklum kondisi masih pandemi covid-19. Jadi harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Ada tiga lokasi wisata yang akan kami tuju: kawasan Kota Budaya Uluan Nughik, Taman Seribu Batu Las Sengok dan Komplek Islamic Center Dunia Akherat. Tidak lama perjalanan, kami pun sampai di lokasi pertama—kawasan Kota Budaya Uluan Nughik.

Obyek wisata tersebut memang masih dalam tahap penyelesaian. Walau begitu, sepertinya pengunjungnya cukup ramai. Itu terlihat dari banyaknya kendaraan pengunjung yang terpakir di sisi jalan dekat lokasi wisata tersebut.

Saya langsung menyapa seorang juru parkir. “Aman parkir di sini? Insya Allah saya tunggu, jawabnya. Kami pun bergegas masuk. Tidak sabar ingin melihat langsung obyek wisata yang sudah viral di berbagai media sosial itu.

“Wah, wajar saja viral,” kataku dalam hati. Memang benar indah, obyek wisata Uluan Nughik ini. Deretan bangunan, rumah adat dari berbagai daerah dipadu taman-taman asri terpampang di depan mata. Rasanya menyejukan hati.

Lokasi ini belum selesai dibangun, tapi sudah terasa nuansa wisata budayanya. Pasti pimimpin yang menggagas pembangunanya sangat mencitai budaya. Lebih dari itu, cerdas dan mau memanfaatkan potensi sekecil apa pun, untuk kemajuan daerah.

Saya langsung menutupi wajah dengan masker. Disiplin protokol kesehatan. Sekalian nyamar. Tak sanggup rasanya kalau ketahuan dengan beberapa rekan wartawan setempat. “Wah, kok jalan-jalan ke sini. Memang di Tulangbawang, nggak ada tempat wisata bagus tah.” Kalimat candaan itu, terbayang dibenaku, kalau nanti bertemu dengan rekan wartawan setempat.

Sambil terus menikmati suasana di tempat wisata itu, aku kembali berfikir. Bangunan-bangunan rumah adat seperti di obyek wisata Uluan Nughik ini, sebenarnya juga ada di daerahku—Kabupaten Tulangbawang. Bahkan, sudah lama ada, sebelum terbentuknya Kabupaten Tulangbawang Barat.

Di Tulangbawang, lokasi bangunan berbagai rumah adat itu ada di kawasan Cakat Raya. Di lokasi lain juga ada, berdiri bangunan Sesat Agung (balai adat) dan Museum Tulangbawang, rumah adat Mego Pak Tulangbawang, Tanggo Rajou. Sayang tidak dikembangkan menjadi obyek wisata. Bahkan, terkesan tak terawat. Kok bisa ya? Apa dan siapa yang salah ya? tanyaku dalam hati.

Apa memang karena para pemimpinya kurang peduli dengan budaya atau memang tak pandai memanfaatkan potensi?

Menurutku, kuncinya gampang. Cieh..mulai deh, saya berlagak paham mengelola daerah. Padahal, saya juga sadar, nggak semudah yang saya pikirkan. Ya, setidaknya, menurut saya, pemimpin itu harus mau mendengar masukan dan kritik dari seluruh elemen masyarakat.

Pimpinan harus sering-sering menyerap aspirasi masyarakat yang mungkin bisa berbuah gagasan, untuk kemajuan daerah. Jangan terlalu percaya dengan bawahan yang sering bicara ABS (Asal Bos Senang). Apa lagi, terlalu baper dengan kritikan.

Hari semakin petang. Kamipun beranjak meninggalkan tempat wisata di Kabupaten Tulangbawang Barat. Jalan kaki menuju tempat kendaraan diparkir.

Saat akan menyeberang jalan, ada seorang pemuda bertubuh kekar bersama keluarganya, menyapa.

“Bang buatlah di tempat kita Kabupaten Tulangbawang wisata seperti ini.? Ya nanti kita buat,” jawabku sponta sambil tersipu malu.

Benarkan yang kubayangkan tadi jadi kenyataan. Padahal, saya tetap pakai masker. Masih saja ada yang kenal.

Sekali lagi, ya nanti kita buat. Mudah-mudahan itu bukan sekedar kata-kata spontan dan harapan. Semoga, bisa diwujudkan oleh para pemimpin di kabupatenku. Memang saya siapa? mau bangun tempat wisata. Tabik pun…(**)

Abdul Rohman.,S.H.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Tulangbawang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here