Oleh: Abdul Rohman, S.H
Ketua SMSI Tulang Bawang
Pertanyaan itu terus terngiang: “Negeri kaya, untuk siapa?”
Kita hidup di negeri yang dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa dengan SDA melimpah. Ada nikel, batu bara, timah, emas, tembaga. Ada CPO, karet, kopi, dan hasil laut. Secara teori, tidak ada alasan rakyatnya kelaparan.
Tapi fakta di lapangan sering membuat dada sesak.
Miris. Seorang ayah berinisial KD asal Desa Sidetapa, Buleleng, tewas diamuk massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Tabanan, Bali, Jumat 24 Juli 2026.
Tuduhannya sepele: mencuri ayam aduan. Alasannya lebih pilu: demi biaya sekolah anaknya.
Video anak perempuannya, siswi kelas 2 SD, menangis histeris di samping jenazah ayahnya viral. Di situ kita melihat wajah kemiskinan paling telanjang. Di mana harga sebuah nyawa kalah oleh seekor ayam.
Di saat rakyat bawah berjuang untuk sesuap nasi, kita justru disuguhi tontonan dari “atas”.
Jarang terdengar Kepala Desa terseret hukum sejak anggaran desa dialihkan ke MBG dan KDKMP. Namun di era Prabowo – Gibran, publik dikejutkan dengan ditangkapnya Eks Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dalam kasus Tipikor.
Belum selesai. Eks Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah ditemukan menyimpan emas dan uang ratusan miliar di rumahnya. Bupati, Gubernur, silih berganti terjaring OTT KPK.
Deretan nama besar itu berdiri kontras dengan jeritan masyarakat kecil yang makin sulit kerja, makin sulit bertahan hidup.
Negara sibuk mengejar capaian, pertumbuhan, dan proyek mercusuar. Tapi apakah cukup peduli dengan jeritan di dapur rakyat? Apakah cukup mendengar tangis anak yang kehilangan ayah karena lapar dan putus asa?
Rakyat tidak minta muluk-muluk. Mereka hanya ingin pemimpin mau turun, melihat, mendengar, dan merasakan langsung. Agar kebijakan bukan lagi teori di atas kertas, tapi benar-benar sampai ke warung, ke sawah, ke sekolah, dan ke puskesmas.
Lalu untuk siapa semua kekayaan ini?
Jika pendidikan masih mahal. Jika berobat masih antre dan bayar. Jika harga beras, minyak, dan kebutuhan pokok terus menekan orang miskin.
Kematian KD bukan sekadar tragedi kriminal. Ia adalah cermin retak. Cermin yang menunjukkan ada yang salah dalam cara kita mengelola negeri dan mendistribusikan keadilan.
Jangan sampai “ayam” lebih berharga dari nyawa manusia. Jangan sampai “proyek” lebih penting dari perut rakyat.
Negeri ini kaya. Seharusnya tidak ada lagi ayah mati karena mencuri untuk anak sekolah. Seharusnya tidak ada lagi anak menangis di samping peti jenazah orang tuanya.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya dan mulai menjawab: dengan kebijakan adil, pemimpin berempati, dan sistem yang memihak rakyat paling bawah.
Karena jika kekayaan alam tidak membuat rakyat sejahtera, lalu untuk apa semua ini?
Tulang Bawang, 19 Agustus 2026













