Beranda Lifestyle Dandim 0426 Tulangbawang Tangguh Menghadapi Rintangan Hidup

Dandim 0426 Tulangbawang Tangguh Menghadapi Rintangan Hidup

489
0
BERBAGI

Cahayalampung.com–Pria kelahiran Karawang tanggal 17 Mei 1977 yang kini menjabat Komandan Kodim 0426/Tulang Bawang. Dia adalah seorang perwira yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan terbilang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai rintangan hidup.

Kohir, itulah nama yang sangat singkat diberikan oleh kedua orang tuanya, di depan nama Kohir ada Pangkat yang menyertainya yaitu Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf)

Begitu panjang dan berliku perjalanan hidup suami dari Nila Agustina (32) dan ayah dari Prawira (11) serta Galank Farizki (7), sejak kecil sudah ditinggal ibunya ke Saudi Arabia dan tak lama berselang ayah kandungnya pun wafat. Kohir pun yang saat itu berumur 11 tahun harus merasakan hidup berdua dengan adik kandung perempuan satu-satunya dan tinggal di rumah kakeknya depan stasiun kereta api Klari Karawang. Hari-hari dilalui dengan berjualan kue keliling dan mengumpulkan barang-barang bekas pun pernah dijalaninya untuk sekedar mencari makan.

Pada tahun 1990 Kohir lulus dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Anggadita I dan saat itu Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya (SMP) dikarenakan tidak ada biaya. Semua gurunya pun kecewa dengan keputusannya itu karena Kohir merupakan salah satu siswa yang terbilang pandai. Hal ini terbukti dengan nilai-nilai pada raport nya yang rata2 angka 9 dan rangking 5 besar sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Namun dengan berbagai bujukan saudara-saudaranya seperti Paman dan Bibinya selalu memberikan support untuk melanjutkan pendidikan ke SMP, Kohir pun akhirnya melanjutkan sekolah di salah satu SMP swasta di Kota Karawang. Dengan tekad yang kuat serta dilandasi semangat juang yang tinggi, selama 3 tahun Ia berhasil menjadi penerima bea siswa dari Yayasan Perguruan Pendidikan Swasta tersebut sebagai imbalan siswa berprestasi dengan nilai tertinggi.

Seperti yang diceritakan Kohir, bahwa selama mengenyam pendidikan SMP, Ia sambil berjualan asongan air mineral yang dijajakkan ke sopir-sopir yang berhenti karena jalan macet. Uang hasil jualannya digunakan untuk membeli keperluan sekolah seperti buku, tas, dan pakaian sekolah dirinya, serta adik perempuannya. Masa muda Kohir terbilang habis untuk memperjuangkan dirinya dan adik perempuannya yang bernama Komalasari. Sementara hasil kerja ibunya di Saudi Arabia sebagai TKW hanya cukup untuk membayar hutang semasa ayahnya masih hidup untuk berobat karena sakit yang dideritanya.

Selepas menamatkan SMP, pada tahun 1993, Kohir melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Karawang. Disitulah Ia mengetahui adanya beberapa perguruan tinggi ikatan dinas karena banyak sekali tawaran serta promosi masuk ikatan dinas yang salah satunya adalah Akademi Militer (Akmil). Motivasi pun semakin tumbuh berkembang seiring dengan perjalanan waktu dan memantapkan pilihan cita-cita untuk mengabdi kepada Bangsa dan Negara. Pada tahun 1996, Kohir pun mulai mendaftarkan diri sebagai salah satu calon taruna Akmil di Korem 063/Sunan Gunung Jati Cirebon dan selanjutnya mengikuti serangkaian tes di Kodam III/Siliwangi Bandung. Selama mengikuti tes Akmil, Ia sambil berjualan celana jeans yang dijajakan di pinggir jalan Kota Bandung. Berkat perjuangan dan kerja kerasnya, Kohir lulus seleksi tingkat daerah dan melenggang ke tahap selanjutnya yaitu seleksi tingkat pusat di Akademi Militer Magelang Jawa Tengah.

Dengan berbekal hasil kerja berjualan celana jeans, Ia pun diberangkatkan ke Magelang bersama rekan-rekannya lainnya yang lulus di tingkat daerah (Kodam III/SLW). Pada bulan Juli 1996 adalah waktu pengumuman hasil seleksi dan Ia pun dinyatakan lulus dan berhak ikut pendidikan Akmil yang dibuka pada tanggal 1 Agustus 1996.

Pendidikan Akmil pun dijalaninya tanpa ada kendala dan hambatan, semua dilalui dengan penuh semangat karena cita-cita sudah hampir tercapai. Pada tahun 1998, ketika itu Ia sudah duduk di tingkat II Akmil dengan pangkat Sersan Taruna (Sertar) mengikuti pendidikan dasar Para terjun payung. Saat itu pula sang Ibu hadir di hari yang berbahagia yaitu Wing Day. Setelah sekian tahun tak bersua, akhir nya Kohir dipertemukan kembali dengan ibunda tercinta dalam suasana haru dan bahagia. Sang ibu pun menyempatkan Wing Para Dasar sebagai tanda kelulusan Kohir menyandang prajurit berkualifikasi terjun para dasar.

Pada tahun 1999, Kohir menyelesaikan pendidikan Akmil dan dilantik oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) di Istana Negara Jakarta dengan pangkat Letnan Dua. Setelah 42 tahun perjalanan hidupnya kini Kohir bukan lagi sebagai penjual air mineral dan pengumpul barang bekas lagi, tapi seorang perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel Infanteri dengan jabatan strategis pada levelnya yaitu Komandan Kodim (Dandim) 0426 Tulang Bawang.

Kini, Letkol Inf Kohir telah mengabdi di Angkatan Darat selama 20 tahun. Berbagai jabatan yang pernah disandangnya diantaranya sebagai Danton sd Danki dan Pasi Intel di Yonif 642/Kapuas Sintang Kalbar tahun 2001 sd 2009, Wadan Denma Brigif 19/Khatulistiwa tahun 2010, Wadan Dodik Bela Negara Rindam Iskandar Muda Aceh tahun 2010 sd 2011, Wadan Secaba Rindam IM tahun 2011, Wadan Yonif 111 tahun 2012 sd 2013, Kasi Ter Korem 022/Pantai Timur Siantar tahun 2014, Pabandya Ops Kodam I/Bukit Barisan tahun 2014 sd 2015, Danyonif 125/Simbisa tahun 2015 sd 2016, Danyonif 122/Tombak Sakti tahun 2016, Pabandya Program dan Pabandya Anggaran Kodam I/Bukit Barisan 2016 sd 2019 dan kini menjabat Dandim 0426 Tulang Bawang Lampung.

Sementara itu pendidikan militer selain Akmil yang pernah diikutinya diantaranya Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri tahun 2000, Kursus Bahasa Inggris Abituren Akmil tahun 2000, Combat Intel tahun 2000, Kursus Perwira Intel Tempur tahun 2005, Pendidikan Lanjutan Perwira II Infanteri tahun 2010, Pendidikan Reguler Seskoad LI tahun 2013 dan Pembekalan Danyon 2015.

Tugas operasi pun pernah dijalaninya diantaranya Operasi Pemulihan Keamanan di Ambon Maluku tahun 2001-2002, Operasi Terpadu Aceh tahun 2002-2003, Operasi Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia tahun 2004-2005 dan terakhir di tahun 2015 Operasi Pengamanan Perbatasan RI-PNG sebagai Dansatgas.

Nasib dan garis tangan orang tidak ada yang bisa menebak, hanya Tuhan Yang Maha Esa, Maha Adil dan Bijaksanalah yang mewujudkan atas semua pengorbanan, perjuangan, kerja keras serta doa yang dipanjatkan yang akan mewujudkan segala asa yang ada pada diri manusia.

Semoga cerita diatas bisa menjadi bahan renungan kita semua bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, dan yakinlah bahwa Tuhan Allah SWT tidak tidur. (red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here